Bertandang Ke Kampung Santri Ciharashas

Santri Al Mutaqin sedang melaksanakan giat rutin setiap Kamis malam

Tiga puluh tiga kilo meter dilalui dari Cimahi, Kamis, beberapa waktu lalu. Tepat pukul 10.15 saya tiba di Kantor Desa Ciharashas, Kecamatan Cipeundeuy, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Cuaca panas siang itu, membuat perjalanan saya yang didampingi Pendamping Desa Kecamatan Cipeundeuy, Yudistira Gumantri cukup berkeringat. Namun demikian ada kebahagiaan dalam hati, karena kepenasaran soal Kampung Santri Ciharashas akan terbayar di hari itu.

Mampir di Kantor Desa Ciharashas, kami berdua mendapat penjelasan panjang lebar soal Kampung Santri Ciharashas yang tidak lama lagi akan dijadikan salah satu destinasi wisata. Kepala Desa Ciharashas Japar Sidik menyatakan ia bermimpi bahwa kelak Pesantren Al Mutaqien selain menghasilkan santri yang bersumber daya agama baik, namun juga bisa terberdaya secara ekonomi dengan beragam pelatihan.

“Rencana ke depan, mimpi saya Ponpes Al Mutaqin selain menghasilkan santri bisa juga  terberdaya secara ekonomi dengan beragam pelatihan,” kata Japar.

Japar Sidiq juga berharap bahwa Pesantren Al Mutaqien akan menjadi daya tarik wisatawan untuk datang sebagai destinasi wisata religi, wisatawan selain mendapatkan sentuhan rohani, mendapat pula pelatihan SDM, baik itu bahasa maupun pelatihan lainnya.

Mengunjungi Kampung Santri Ciharashas yang ada di Kampung Tugu pada siang hari, kami berkesempatan melihat langsung aktifitas santri menjelang dzuhur. Yang tidak pernah kami bayangkan adalah pondok pesantren yang memiliki 229 santri tersebut mendukung terciptanya desa wisata yang juga akan menjadikan potensi alam desa sebagai destinasi wisata.

Setelah sholat Ashar berjamaah, pimpinan Pondok Pesantren Al Mutaqien, Iman Saepuloh  mengajak kami melihat salah satu titik destinasi wisata di Kampung Tugu. Ini artinya ada keseriusan pondok pesantren untuk mensinergikan antara wisata relijius dan wisata alam. Yang kami kunjungi adalah bentangan sawah yang berundak. Sebagian padinya ada yang sudah dipanen. Sebagian lagi sedang masa tanam.

Dari lokasi pondok pesantren, menuju ke lokasi berjarak sekira 600 meter. Namun, ketika berkeliling pesawahan tersebut, bentangan jalan untuk trekking mengelilingi undakan sawah bisa lebih dari 1 KM. Sepanjang pematang sawah selalu ada spot yang sangat indah untuk berfoto.

Pemandangan yang lebih mengasyikan tampak pula saat  di Barat Laut Tembok Bendungan Cirata gagah berdiri diantara dinding pegunungan yang cukup curam. Di sudut lain Pengunungan di balik Waduk Cirata berdiri gagah nan biru. Hal ini membuat saya dan rombongan betah berlama-lama untuk menikmati sore, saat matahari hampir tergelincir di ufuk Barat.

Persis diujung pesawahan, jurang membelah membatasi Kampung Tugu  dan Kampung Ciharashas. Cukup dalam nampaknya jurang tersebut. Kami estimasikan sekira 100 meter kedalaman jurang tersebut dengan Sebagian tebing tampak batu hitam yang kalau ada yang memanjat tebing tersebut, bisa jadi akan penampakannya seperti pada film Cliff Hanger.

Didasar jurang mengalir Sungai Cileuleuy, yang di posisi kami berdiri, bila ditarik ke Barat Daya, konon di bawahnya mengalir Curug Enjong. Sore itu situasi tidak memungkinkan untuk menuju ke Curug Enjong, selain tidak ada jalan menuruni tebing, kalaupun ingin menuju ke lokasi, jalannya harus memutar lebih jauh dari rute kami sore itu.

Sambil beristirahat menjelang Magrib, rombongan kami berdikusi banyak soal rencana mempercantik lokasi yang akan dijadikan destinasi wisata oleh warga lokal di Kampung Santri Ciharashas tersebut. Pikiran saya melayang jauh, mengkhayalkan nikmatnya makan siang di saung, di tengah sawah, dengan menyantap tawes goreng crispy yang menjadi makanan unggulan, yang sempat kami santap di siang hari sebelumnya.

Lamunan saya terpecah saat kumandang adzan Magrib, memanggil para santri di pesantren tempat kami menginap. Remaja berusia belasan tahun bergegas mengambil wudhu untuk melaksanakan sholat Magrib Berjamaah.

Setelahnya, sambi bersantap malam, kami mendengar lantunan musik hadrah, mengiringi lantunan puji-pujian yang menggema di sudut timur pesantren. Acara berlangsung sampai menjelang Isya. Sementara setelah Isya, saya diajak pimpinan pesantren menuju rumah Kepala Desa.

Warga sudah menunggu, karena acara rutin tawasulan senantiasa digelar pada Kamis malam. Acara itu semakin menggenapkan istilah Kampung Santri. Karena tidak hanya warga pesantren, Kepala Desa dan warga di Kampung Tugu pun, aktifitas sehari-harinya memang relijius namun sangat terbuka dengan perkembangan jaman dan teknologi.

Selepas tawasulan, warga berserta Kepala Desa berdikusi soal desa wisata yang akan dibangun di Kawasan tersebut. Perbincangan sangat hangat karena saya dan warga sharing pendapat bagaimana kampung santri bisa mewujudkan impian tersebut, sementara potensi alam dan warga desanya sangat mumpuni.

Sehabis dikusi yang hangat itu, setelah kami tiba kembali di pesantren, masih terlihat beragam aktifitas yang menarik dilakukan para santri, mulai dari mengulas kembali apa yang mereka dapatkan selama belajar, sampai kegiatan ngaliwet untuk merekatkan persaudaraan para santri.

Sambil menyaksikan aktifitas-aktifitas itu, pikiran saya sudah melayang, membayangkan bagaimana perjalanan esok hari melihat potensi wisata lainnya di Desa Ciharashas, yaitu Curug Enjong. Ini juga yang membuat saya ingin beristirahat dengan segera menyelesaikan tulisan ini. (MIM)

 

Baca Juga